Sejarah Masjid Raya Bandung, Pembangunan dan Renovasi

sejarah masjid raya bandung

Bandung dikenal sebagai kota kembang dan populer akan wisata kuliner yang bervariasi dan kekinian. Nah ternyata kota Bandung juga erat kaitannya dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya masjid alun-alun Bandung bersamaan dengan dengan kepindahan pusat kota Bandung yang berpola dari Krapyak di Bandung Selatan ke pusat kota saat ini serta pembangunan Masjid raya Bandung.

Terdapat dua versi yang menceritakan tahun dibangunnya Masjid Raya Bandung, yaitu pada 1810 atau 1812. Melihat tahun pembangunannya Masjid Raya Bandung menjadi salah satu masjid tertua di kota Bandung. Nah penasaran seputar sejarah dan fakta masjid paling populer di Bandung? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

alun alun bandung zaman dulu

Sejarah Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung sekarang dapat dilihat memiliki bangunan yang megah serta terdapat dua menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid. Tinggi kedua menara kembar tersebut adalah 81 m. Setiap hari Sabtu dan Minggu, menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid selalu dibuka untuk umum. Terdapat 1 ukuran besar yang ada di tengah masjid serta dua kuba dengan ukuran yang lebih kecil pada atap kiri dan kanan masjid. Dinding Masjid ini terbuat dari batu alam kualitas super. 

Luas tanah keseluruhan area masjid adalah 23.448 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 8.575 meter persegi. Karena luas bangunannya Masjid populer di bandung ini bisa menampung hingga 13 ribu jamaah.

Tahun Pembangunan Masjid Agung Bandung

Banyak sumber yang mengatakan bahwa Masjid Raya atau Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Awalnya Masjid Raya Bandung bernama Masjid Agung bandung, masjid ini dibangun menyerupai bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, di mana kayunya terbuat dari tiang, dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu serta beratap rumbia.

Dahulu Masjid Agung Bandung dilengkapi dengan sebuah kolam dengan ukuran yang cukup besar sebagai tempat berwudhu. Air kolam tersebut juga lah yang digunakan sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi pada tahun 1825 di daerah alun-alun Bandung. Pada masa itu, Masjid tertua di Bandung ini dikelola secara instansioal oleh Bupati dan operasionalnya dilimpahkan kepada orang yang menjabat sebagai penghulu Bandung.

masjid agung bandung tempo dulu

Awal Mula Perombakan dan Berbagai Renovasi Masjid Raya Bandung

Setahun pasca peristiwa kebakaran, tepatnya pada tahun 1826 dilakukan perombakan terhadap bangunan Masjid Agung Bandung. Bagian yang direnovasi adalah dinding bilik bambu dan atap yang dengan bahan dari kayu. Kemudian pada tahun 1850 masjid kembali dilakukan perombakan seiring dengan pembangunan jalan Grote Postweg yang saat ini disebut dengan jalan Asia Afrika.

Bangunan masjid yang saat itu masih berukuran kecil mengalami perombakan lagi dan diperluas atas arahan dari Bupati R.A Wiranatakusumah IV. Perombakan yang terjadi saat itu yaitu pada atap masjid yang diganti dengan genteng sedangkan dindingnya diganti dengan tembok batu bata. Pada tahun 1852, pelukis asal Inggris bernama W Spreat mengabadikan dengan melukis kemegahan Masjid yang berubah nama menjadi Masjid raya Bandung tersebut. Dari hasil lukisan tersebut, dapat dilihat terdapat atap limas dengan ukuran besar yang bersusun tiga tinggi menjulang.

bale nyungcung masjid agung bandung

Oleh karena itulah, masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Salah itu pada tahun 1875, bangunan masjid kembali direnovasi dengan menambahkan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi Masjid. Pada akhirnya masyarakat Bandung mendirikan Masjid Agung Bandung sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat dengan seiring perkembangan zaman.

Baca artikel terkait: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama yang dibangun Rasulullah

Masjid Raya Bandung kerap digunakan untuk kegiatan keagamaan seperti pengajian, perayaan Maulid Nabi, Rajaban atau peringatan hari besar Islam bahkan dijadikan sebagai tempat dilangsungkannya akad pernikahan.  Dengan demikian di lengkapi lah lagi sejumlah perubahan yang dilakukan terhadap bangunan masjid seperti pembuatan Mihrab dan pawestren atau teras di samping kiri dan kanan masjid pada tahun 1900.

Setelah itu Masjid populer di bandung ini kembali dilakukan renovasi pada tahun 1930 dengan membangun pendopo sebagai teras masjid. Di tahun ini lah dua buah menara dibangun di sebelah kanan dan kiri bangunan masjid dengan puncak menara yang berbentuk serupa dengan bentuk atap masjid sehingga semakin mempermegah tampilan Masjid. Menurut ceritanya bentuk seperti inilah yang menjadi bentuk terakhir Masjid tertua di Bandung ini, dengan kawasan atap yang menyerupai bentuk nyungcung.

Kemudian pada tahun 1955, dimana saat itu akan diadakan Konferensi Asia Afrika, Masjid Agung Bandung mengalami renovasi besar-besaran. Renovasi ini dilakukan atas rancangan dari Presiden RI pertama yaitu Soekarno. Pada saat itu Masjid mengalami perubahan total seperti bentuk kubah yang dirubah bentuknya menjadi persegi empat dengan mengikuti gaya Timur Tengah menyerupai bawang.

Baca artikel terkait: Sejarah Masjid Pusdai Bandung

Kemudian menara yang terdapat di kiri dan kanan Masjid beserta pawestren berikut teras depan ikut dibongkar sehingga saat itu ruangan Masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Pada saat Konferensi Asia Afrika, Masjid Raya Bandung digunakan sebagai sholat bagi para tamu yang menganut agama Islam.

Tapi sayangnya kubah rancangan Soekarno yang berbentuk bawang hanya bertahan sekitar 15 tahun. Hal ini dikarenakan kubah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan sebelumnya pernah diperbaiki pada tahun 1967. Namun pada tahun 1970 kubah bawang tersebut diganti dengan bentuk bukan bawang lagi.

Tidak berhenti sampai disitu, Masjid Raya Bandung mengalami perubahan secara besar-besaran lagi pada tahun 1973 berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat. Saat itu dilakukan perluasan lantai masjid dan dibuat bertingkat. Dibangun juga ruang basement sebagai tempat wudhu, kantor DKM serta lantai atas yang digunakan sebagai mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar lantai dasar yang digunakan sebagai tempat salat utama. Menara baru juga dibangun di depan masjid dengan ornamen logam yang bentuknya bulat menyerupai bawang dan atap kubah masjid berbentuk joglo.

masjid raya bandung

Setelah itu perombakan atau renovasi terakhir yang terjadi pada Masjid Agung Bandung yaitu terjadi pada tahun 2001 yang merupakan bagian dari rencana penataan ulang alun-alun Bandung. Di dalam perencanaan tersebut, alun-alun dan masjid raya Bandung merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan tanpa mengurangi arti alun-alun sebagai ruang terbuka umum.

Baca artikel terkait : Sejarah masjid istiqlal jakarta

Kesimpulan

Kesimpulan dari sejarah masjid raya bandung adalah fakta bahwa Masjid ini adalah masjid tertua di Bandung yang telah mengalami berbagai renovasi dan jika dijumlahkan mengalami total 14 kali perombakan atau renovasi. Beredar 2 versi kapan pertama kali pembangunan Masjid Raya Bandung, dimana sebagian sumber mengatakan pembangunan pertama kali pada tahun 1810 dan tak sedikit pula yang mengatakan bahwa pembangunan masjid dilakukan pada taun 1812.

Masjid Raya Bandung kini selalu ramai dikunjungi warga, baik warga kota bandung maupun wisatawan dari luar kota. Baik untuk beribadah sekaligus menikmati kemegahan serta keindahan bangunan masjid. Siapa pun akan merasa betah mengunjungi masjid Raya Bandung dengan menyaksikan arsitektur bangunan yang megah beserta likungan yang asri.