pt madina

Sejarah Masjid Agung Demak dan 4 Fakta Uniknya

sejarah masjid agung demak

Masjid Agung Demak termasuk masjid tertua di Indonesia. Masjid Agung Demak ini berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, kabupaten Demak, Jawa Tengah. Tempat ibadah bersejarah ini dibangun oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak setelah masa keruntuhan Kerajaan Majapahit, tepatnya pada abad ke-15 Masehi. Ia juga dibantu oleh para Wali Songo untuk menyelesaikan bangunan masjid Agung Demak.

Cukup mudah menemukan letak Masjid Agung Demak karena masjid ini menjadi salah satu situs sejarah dan objek wisata sejarah yang populer di kota Demak. Penasaran dengan sejarah lengkap dan fakta unik di Masjid Agung Demak. Simak ulasan berikut ini.

tampak depan masjid agung demak

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak menjadi salah satu masjid tertua di pulau Jawa yang didirikan oleh Wali Songo. Struktur bangunan masjid ini memiliki nilai sejarah seni bangunan arsitektur tradisional khas Indonesia. Bangunan Masjid Agung Demak anggun, megah, karakteristik, indah, berwibawa dan mempesona. Masjid Agung Demak ini digunakan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Berdasarkan kisah yang beredar di masyarakat setempat, dahulu Masjid Agung Demak merupakan tempat yang dijadikan sebagai lokasi berkumpul para Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Inilah alasannya mengapa Demak juga mendapat julukan sebagai kota wali. 

Raden Patah bersama Wali Songo memberi gambaran masjid bangun ini menyerupai bulus yaitu candra sengkala memet yang bermakna ‘Sirno Ilang Kerthaning Bumi’. Filosofis dari bulus yaitu menggambarkan tahun pembangunan Masjid Agung Demak dimana masjid ini dibangun pada tahun 1401 Saka.

Hewan bulus terdiri dari satu kepala yang bermakna satu, 4 kaki bermakna angka 4, badan bulus yang bulat yang bermakna O, harga 1 ekor bulus yang bermakna angka satu. Sehingga hewan bulus tersebut menggambarkan tahun 1401 Saka. Bukti dari hewan bulus menjadi simbol Masjid Agung Demak yaitu ditemukannya beragam ornamen bergambar bulus di dinding masjid.

Apabila diperhatikan dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak menjadi simbol arsitektur tradisional Indonesia yang khas dan memiliki makna yang mendalam. Walaupun bangunan ini terkesan sederhana, tetapi siapa saja bisa menyaksikan kemegahan, keindahan, karismatik dan wibawa dari masjid ini.

Beberapa bagian bangunan masjid memiliki beragam makna. Seperti atap Masjid Agung Demak yang berbentuk limas bersusun tiga gambar makna aqidah Islam yaitu iman, islam dan ihsan. Terdapat tempat yang utama di dalam masjid yang disebut dengan Saka Guru atau Saka Tatal. Tiap-tiap tiang utama tersebut berada di sebelah Timur Laut yang dibangun oleh Sunan Kalijaga, sebelah Tenggara dibangun oleh Sunan Ampel, sebelah Barat Daya yang dibangun oleh Sunan Gunung Jati dan sebelah barat laut yang dibangun langsung oleh Sunan Bonang, Sedangkan di bagian Pintu Masjid Agung Demak dijuluki sebagai Pintu Bledheg. Pintu tersebut dianggap mampu menangkal petir.  

tampak samping masjid agung demak

Fakta Unik Masjid Agung Demak

Selain sejarahnya yang menarik, Masjid Agung Demak juga memiliki sejumlah fakta unik yang perlu diketahui, antara lain;

  1. Sebagai wujud dari harmonisasi agama Hindu dan Islam

Bangunan Masjid Agung Demak ini memiliki gaya khas Kerajaan Majapahit. Sehingga bangunan masjid membawa corak kebudayaan Bali. Gaya bangunan tersebut berpadu harmonis dengan langgam rumah tradisional Jawa tengah. Harmonisasi arsitektur Masjid Agung Demak dengan bangunan Majapahit dapat diperhatikan dari bentuk atapnya, di mana atap masjid menyerupai kubah melengkung justru tidak menjadikan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan Islam.

Kecuali pada mustoko yang dihiasi dengan nama Allah dan menara masjid yang telah mengadopsi gaya menara masjid Melayu. Jika diperhatikan arsitektur dari Masjid Agung Demak Mala menyerupai bangunan peribadatan agama Hindu.

Ini dijadikan sebagai bentuk alkulturasi dan toleransi masjid sebagai sarana penyebaran agama Islam yang pada saat itu mayoritasnya masyarakat masih beragama Hindu. Bentuk atap Masjid Agung Demak yang tumpang tiga segi empat ini lebih menyerupai bangunan suci umat Hindu di mana puran nya terdiri atas tiga tajuk.

baca artikel sejarah lainnya:

Sejarah masjid istiqlal Jakarta

Sejarah masjid raya baiturrahman Aceh

Bagian tajuk pertama menaungi ruangan ibadah, kemudian tajuk kedua dengan ukuran yang lebih kecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap yang di bawahnya. Setelah itu tajuk yang ketiga berbentuk limas dengan sisi kemiringan lebih runcing.

Berdasarkan kisah yang beredar, terdapat 1 undakan atau tajuk yang terbuat dari intip atau kerak nasi liwet. Hal ini dikarenakan saat masa pembangunan atas masjid mengalami kekurangan bahan atap sehingga Sunan Kalijaga mengucapkan ‘Kun fa yakun’ sembari melemparkan intip ke atas masjid dan jadilah atap.

  1. Kolam Wudhu

Kalau Wudhu adalah Salah satu bagian dari Masjid Agung Demak yang posisinya berada di samping depan masjid. Seperti namanya, kolam ini dijadikan sebagai tempat berwudhu. Malam ini juga dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak. Ukuran kolam wudhu ini adalah 10 x 25 m dengan kedalaman 5 m. Di kolam wudhu ini dapat ditemukan tiga batu dengan ukuran yang berbeda. 

Terdapat batu yang berwarna hitam dengan ukuran paling besar berdiri tegak, sedangkan dua batu hitam lainnya tergeletak bersamaan dengan batu hias selain dengan ukuran yang lebih kecil di dalam kolam. Dulu ini dijadikan tempat berwudhu oleh Wali Songo, tetapi saat ini kolam wudhu tidak digunakan lagi untuk berwudhu oleh masyarakat umum.

  1. Saka Tatal

Terdapat tiang yang disebut dengan saka pada Masjid Agung Demak. Masing-masing tiang tersebut mempunyai tinggi hingga 16 meter. Konon katanya keempat yang tersebut dibuat langsung oleh empat wali, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga. Yang membuat yang ini semakin unik yaitu karena Saka Tatal terbuat dari serpihan kayu sisa yang diikat. Walaupun Saka Tatal tidak dibangun dari kayu utuh, tetapi kekuatan Saka Tatal tidak kalah kokoh dengan tiang-tiang lainnya.

  1. Pintu Bledheg

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Pintu Bledheg dipercaya sebagai penangkal petir. Pintu Bledheg dibuat oleh Ki Ageng Selo sekitar tahun 1446 Masehi. Nah dulu Ki Ageng Selo merupakan orang sakti yang dipercaya bisa menangkap petir. Ini dikutip dari Babad Tanah Jawa Karya WL Olthof.

Pintu Bledheg menggunakan kayu jati sebagai bahan dasarnya yang kemudian di hias dengan ukiran tebal. Terdapat ukiran dua kepala naga pada bagian ukiran yang paling menonjol. Ukiran tersebut semakin terlihat cantik dengan penambahan cat berwarna merah. Gambar yang ada di dalam Pintu Bledheg juga disebut sebagai prasasti Condro Sengkolo atau sebagai penanda waktu yang bertuliskan ‘Nogo Mulat Salire Wani’.

Nah demikianlah sejarah dan berbagai fakta menarik dari Masjid Agung Demak. Dengan mengunjungi Masjid Agung Demak, maka kamu bisa sekaligus mempelajari sejarah mengenai penyebaran Islam di Jawa Tengah. Tetapi sayangnya, tidak semua bagian dari Masjid Agung Demak bisa dilihat langsung oleh para pengunjung. Salah satunya adalah Pintu Bledheg yang telah dimuseumkan oleh pengelola Masjid Agung Demak. Semoga bermanfaat!

Baca artikel lainnya:

Sejarah kubah masjid

Harga kubah masjid grc

Share:

Related Posts